Realta Nua
~Persahabatan, cinta dan impian~
CHAPTER-I
A Trip to Batavia
Gedung-gedung, pepohonan, rambu-rambu tak ada yang berbeda semua sama, baik di Jepang maupun Indonesia, tentu saja dibelahan dunia manapun juga. Membosankan, pikirku. Aku hanya menatap rambu demi rambu yang terlewati bus pariwisata yang kunaiki ini. 1…2… aku mencoba menghitung rambu yang ada hanya untuk menghilangkan rasa bosanku 3…4… belum sampai hitungan ke lima teman sebangku-ku menepuk bahuku, tepukannya membuatku kaget dan melewatkan beberapa rambu yang seharusnya kuhitung sehingga aku harus mengulangnya dari awal.
“Shion! Apa yang kau lakukan ?” tanyanya penasaran, aku tetap memandang rambu-rambu diluar.
Dia adalah teman sekelasku, Risa namanya. Risa adalah temanku di Tokyo sejak kecil, ia dan aku bagaikan saudara kembar yang tidak dapat dipisahkan lagi, dimana ada Shion disitu lah ada Risa begitulah anggapan teman-teman. Aku dan dia memilih jurusan yang sama, fakultas budaya jurusan budaya Indonesia, tidak hanya mempelajari bahasanya saja tapi kami juga mempelajari tarian-tariannya sampai bahasa-bahasa tradisionalnya, aku pernah melihatnya menarikan salah satu tarian dari Padang Tari Piring, tarian itu menggunakan piring di kedua tangannya lalu menarikan sedemikian rupa sehingga piring tersebut tidak jatuh tetapi tidak untuk Risa ketika ia menarikannya ia menarikan sedemikian rupa SEHINGGA piring-piring tersebut terlempar ke segala arah dan pecah, aku waktu itu hanya bisa tertawa terpingkal-pingkal hingga rasanya perutku sudah tidak bisa menahan tawa lagi. Pernah juga suatu kali kami kedapatan tugas tentang wayang di Indonesia lalu Risa mengajakku menonton teater wayang yang diadakan fakultas budaya, saking panjangnya cerita dalam wayang tersebut aku dan Risa harus menonton semalam suntuk hingga jam 5 pagi! keesokan harinya kami berdua masuk angin dan meminta kepada dosen untuk diundurkan presentasinya.
“Kamu dengar ngga sih ??” tanyanya sekali lagi
“Iya iya, aku lagi ngitungin rambu-rambu di jalan, kamu mau ikut?”
“Ngga makasih, kenapa ngga sekalian aja ngitungin bulu kucingku, si Muki?”
“Kamu bawa si Muki?”
“Ngga”
“Ya udah rambu aja kalo gitu”
Risa hanya menghela nafas setelah berusaha menghiburku, lalu dia mengeluarkan mp3-nya dan mendengarkan beberapa lagu favoritnya dan menyanyikan keras-keras sehingga sangat mengganggu konsentrasiku dalam menghitung rambu-rambu, aku yakin dia sengaja melakukannya untuk mengerjaiku, tetapi aku berusaha menghiraukannya lalu melanjutkan menghitung.
1…2…3…plok! Sekali lagi Risa menepuk bahuku, tetapi sekarang lebih keras yang pasti suaranya membangunkan temanku yang sedang tidur dibangku belakang, dan sekali lagi juga ia membuatku melewatkan beberapa rambu sehingga aku harus mengulangnya dari awal.
“Apa lagi??” tanyaku ketus.
“Lihat!” dia mendekatkan dirinya padaku lalu membalikkan wajahku menggunakan kedua tangannya menuju keluar jendela, “Itu Monas! Tujuan pertama kita!”
Aku, Risa dan seluruh penumpang bus tersebut segera keluar dan berhambur diluar bus. Bangunan tinggi dengan ujungnya berwarna kuning yang menyerupai api pada obor dan dikelilingi tanah lapang yang luas terhampar ini adalah Monas. Monas dibangun sebagai symbol kota Jakarta, ujungnya yang berwarna kuning berbentuk seperti api obor tersebut ternyata dilapisi emas murni ! ya Tuhan jika saja aku dapat naik ke atas dan mengikir “sedikit” saja benda kuning tersebut aku akan bersyukur sekali ya Tuhan, pikirku dengan mata berbinar-binar, Risa yang menyadari hal tersebut menyipitkan matanya memandangiku, pandangan matanya tersebut seperti penuh arti… dari sisi negatif.
Pada lantai dasar monas ini terdapat diorama, patung-patung, yang mengkisahkan perjuangan bangsa Indonesia dari sebelum kemerdekaan, memproklamirkan kemerdekaannya hingga tragedy G30SPKI yang terkenal memakan banyak korban jiwa tersebut. Detil juga diorama nya, pikirku seraya memandangi patung-patung berbentuk manusia yang berjejer dihadapanku. Risa pun tidak kalah kagumnya melihat patung-patung tersebut tetapi memiliki komentar yang berbeda, “Kira-kira ada diorama kakek ga ya?” Aku yang mendengarnya tak dapat berkomentar apa-apa, memangnya kakekmu itu dulu penjajah ya??
Tujuan selanjutnya ialah Taman Ismail Marzuki, disitu tempat kesenian-kesenian digelar dari wayang, gamelan hingga yang terkenal ialah Rama Sinta. Risa sangat menyukai cerita dalam Rama Sinta. Pernah suatu saat fakultas budaya mengadakan pentas seni aku, Risa dan kelompokku yang lain memilih Rama Sinta untuk dimainkan, Risa sebagai Sintanya sedangkan aku menjadi Hanumannya. Risa yang tidak biasa memakai pakaian Sinta merasa kesulitan dalam bergerak alhasil ketika pertarungan Rama dan Hanuman melawan Rawana, tokoh jahat pada kisah Rama Sinta, Rawana yang menyekap Sinta erat-erat dipelukannya seharusnya bertarung melawan Rama dan Hanuman tetapi karena ulah Risa yang tidak sengaja terpleset kain yang ia kenakan dan terjatuh kebelakang bagaikan seorang pegulat melakukan backdrop Rawana pingsan dan akhirnya kisah Rama Sinta berakhir dengan ending yang berbeda dari cerita sebenarnya.
“Kira-kira gimana ya kisahnya?” tanya Risa penasaran.
“Bukannya kita pernah memainkannya?”
“Iya, dengan ending yang berbeda”
Aku hanya diam mendengarnya dan berusaha tidak mengingat-ingat kejadian yang memalukan tersebut, beberapa saat kemudian teater dibuka dan berbagai kesenian ditunjukan dari gamelan yang meng-instrumen-kan lagu-lagu modern saat ini hingga kisah Rama Sinta yang dimainkan oleh pemain-pemain yang sudah berpengalaman sehingga kejadian Sinta mengalahkan Rawana tidak terdapat dalam drama ini.
“Hei, Shion...” tanya Risa pandangannya tetap pada panggung teater di depannya
“Apa lagi...??” balasku kecut tanpa menoleh sama sekali.
“...Jika suatu hari aku menghilang, seperti cerita Sinta di Rama Sinta...” gumam Risa, suaranya terdengar sedikit lirih, tangannya meraih lengan bajuku, “...kamu akan mencari dan menemukanku, kan?” lanjutnya namun dengan pandangan yang lurus menatap mataku dan suara yang lebih tegas. Suasana jadi hening, aku dan Risa hanya terdiam bertatapan.
“... yang ada jatah makan siangmu aku makan”